semester satu

Gallery | Leave a comment

PERAN MASJID BAGI MASYARAKAT MADANI

PERAN MASJID BAITUL AMIN BAGI MASYARAKAT MADANI DI DESA BAYE KEC. PAGU KAB. KEDIRI Makalah Ini Di Susun Sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Ilmu ”Pend. Pancasila dan Kewarganegaraan” Dosen Pengampu: Zayad Abd. Rahman, M.HI           … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Peran Manusia, Teknologi, dan Sains

This gallery contains 1 photo.

PERAN SAINS, TEKNOLOGI, SENI BAGI MANUSIA DAN BUDAYA Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas Mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar               Disusun oleh: Fuad mishbahul        930303010 Much Fuad S             930303110 Tatik … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Peran masjid dalam masyarakat madani

PERAN MASJID BAITUL AMIN BAGI MASYARAKAT MADANI DI DESA BAYE KEC. PAGU KAB. KEDIRI

Makalah Ini Di Susun Sebagai Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Ilmu ”Pend. Pancasila dan Kewarganegaraan

Dosen Pengampu:

Zayad Abd. Rahman, M.HI

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Alfin Haqiqi                         (931305910)

Aris Sasminto                       (931306210)

Fuad Mishbahul Kirom        (931303010)

Kusdianawati Defi               (931307610)

Lia Dayu Pratanti                 (931302110)

Ridma Dini Desita               (931308110)

Siti Alvin Nikmah                (931305010)

Zakia Finnafsi S                   (931300210)

JURUSAN SYARI’AH

PRODI EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) KEDIRI

2010

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Lahirnya masyarakat madani merupakan buah dari penyemaian demokratis dan HAM. Untuk membangun masyarakat madani di butuhkan pengetahuan seputar masyarakat madani. Dalam kerangka ini, kami akan membahas tentang masyarakat madani yang pada umumnya di kenal dengan istilah masyarakat sipil (civil society). Dan kami akan menjelaskan apakah masjid “Baitul Amin” desa Baye kabupaten Kediri ini sudah melakukan peran sebagai masyarakat madani.

  1. B. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian Masyarakat Madani?
    2. Apakah peranan masjid bagi perkembangan masyarrakat madani?

 

  1. C. Metode Penelitian

  1. Pendekatan

Dalam melakukan penelitian yang bertemakan masyarakat madani ini, kami menggunakan pendekatan sosial, yang bercirikan dengan kesukarelaan, di mana dengan melakukan pendekatan sosial ini kita bisa mengetahui hubungan sosial yang terjadi pada masjid Baitul Amin kabupaten Kediri.

 

  1. Teknik Penelitian

Penelitian yang kami lakukan di Masjid Baitul Amin kabupaten Kediri adalah dengan wawancara (face to face) dan observasi langsung di rumah Kyai Sholikhudin dan tidak lupa takmir masjid yaitu Bpk. Suwito yang dipercayai masyarakat sebagai imam dan takmir Masjid Baitul Amin kabupaten Kediri.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A. Masyarakat Madani

1.1  Pengertian Masyarakat Madani

Untuk pertama kali istilah masyarakat madani dimunculkan oleh Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Malaysia. Menurut Anwar Ibrahim, sebagai mana dikutip Dawan Rahardjo, masyarakat madani merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat.[1]

Masyarakat madani, yang merupakan kata lain dari masyarakat sipil (civil society), kata ini sangat sering disebut sejak masa orde baru tumbang selang satu tahun ini. Malah cenderung terjadi perdebatan pada kata itu seolah penerapannya  mampu memberi jalan keluar untuk masalah yang tengah dihadapi oleh bangsa kita. Kecenderungan ini berpotensi untuk menambah kebingungan yang lebih mendalam dalam masyarakat bila terjadi kesenjangan antara realisasi dengan harapan. Padahal kemungkinan untuk itu sangat terbuka, antara lain, kesalahan mengkonsepsi dan juga pada saat manarik kesimpulan.  Saat ini gejala itu sudah ada, sehingga kebutuhan membuat wacana ini lebih terbuka menjadi sangat penting dalam kerangka pendidikan politik bagi masyarakat luas.[2]

Makna Civil Society “Masyarakat sipil” adalah terjemahan dari civil society. Konsep civil society lahir dan berkembang dari sejarah pergumulan masyarakat. Cicero adalah orang Barat yang pertama kali menggunakan kata “societies civilis” dalam filsafat politiknya. Konsep civil society pertama kali dipahami sebagai negara (state). Secara historis, istilah civil society berakar dari pemikir Montesque, JJ. Rousseau, John Locke, dan Hubbes. Ketiga orang ini mulai menata suatu bangunan masyarakat sipil yang mampu mencairkan otoritarian kekuasaan monarchi-absolut dan ortodoksi gereja (Larry Diamond, 2003: 278).[3]

Dalam qur’an di sebutkan bahwa : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS Ali Imran [3]: 110) Konsep “masyarakat madani” merupakan penerjemahan atau pengislaman konsep “civil society”. Orang yang pertama kali mengungkapkan istilah ini adalah Anwar Ibrahim dan dikembangkan di Indonesia oleh Nurcholish Madjid. Pemaknaan civil society sebagai masyarakat madani merujuk pada konsep dan bentuk masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad. Masyarakat Madinah dianggap sebagai legitimasi historis ketidakbersalahan pembentukan civil society dalam masyarakat muslim modern.[4]

Umat islam telah mengenal konsep masyarakat peradaban, masyarakat madani atau civil society, dalam islam Nabi Muhammad SAW kita telah memberikan teladan ke arah pembentukan masyarakat peradaban tersebut. Setelh perjuangan di kota Makkah tidak menunjukan hasil yang berarti, Allah telah menunjuk sebuah kota kecil, yang selanjutnya kota itu  kita kenal dengan Madinah, untuk di jadikan basis perjuangan menuju masyarakat peradaban yang di cita-citakan. Di kota itu nabi meletakkan dasar-dasar masyarakat madani yakni kebebasan. Untuk meraih kebebasan khususnya di bidang agama, eknomi, sosial dan politik, Nabi di ijinkan untuk memperkuat diri dengan membangun kekuatan bersenjata untuk melawan musuh peradaban. Hasil dari proses itu dalam sepuluh tahun beliau berhasil sebuah tatanan masyarakat yang berkeadilan, terbuka dan demokratis dengan di landasi ketaqwaan dan ketaatan kepada ajaran islam.

Sistem sosial madani ala Nabi Muhammad SAW memiliki ciri unggul yakni kesetaraan, istikomah, mengutamakan partisipasi, dan demokratisasi esensi ciri unggul tetap relevan dan konteks waktu dan tempat berbeda, sehingga pada dasarnya prinsip itu layak di terapkan apalagi di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim tanpa mengusik kepentingan dan keyakinan kelompok minoritas.

 

1.2  Karaksteristik Masyarakat Madani

Masyarakat madani tidak muncul dengan sendirinya. Ia menghajatkan unsure-unsur social yang menjadi prasyarat terwujudnya tatanan masyarakat madani faktor-faktor tersebut merupakan suatu kesatuan yang saling mengikat dan menjadi karakter khas masyarakat madani. Beberapa unsur pokok yang harus dimiliki oleh masyarakat madani sebagai berikut :

  1. Free Public Sphere ( ruang public yang bebas) yaitu masyarakat memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul, serta mempublikasikan informasi kepada publik.
  2. Demokratisasi, yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sehingga mewujudkan masyarakat yang demokratis. Untuk menumbuhkan demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat berupa kesadaran pribadi, kesetaraan,dan kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku demokratis kepada orang lain dan menerima perlakuan demokratis dari orang lain. Demokratisasi dapat terwujud melalui penegakan pilar-pilar demokrasi yang meliputi :
    1. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
    2. Pers yang bebas
    3. Supremasi Hukum
    4. Perguruan Tinggi
    5. Partai Politik
    6. Toleransi yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap social yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktifitas yang dilakukan oleh orang atau kelompok lain.
    7. Pluralisme yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat Tuhan Yang Maha Esa.
    8. Keadilan sosial (social justice) yaitu keseimbangan dan pembagian yang proporsional antara hak dan kewajiban serta tanggung jawab individu terhadap lingkungan.[5]


BAB III

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

  1. Paparan Data

1.3  Gambaran Umum

Sejarah  singkat masjid Baitul Amin.

Masjid Baitul Amin didirikan pada tahun 1930,tanggal 27 September yang didirikan oleh Bapak Kyai Husman dan rekan-rekan beliau, Bapak Jasir, Rahimin, Hasan Untung, Maskur, Abdul Jalil, Ahmad Kabul, Askori, H. Nur Wahid. Dan dengan kerja keras jadilah masjid terbaik se-kecamatan Pagu dan diberi nama Baitul Amin.

  1. Kegiatan Ta’mir Masjid Baitul
  2. Musyawarah
  3. Peringatan hari besar Islam, contoh : Maulud Nabi, Rajabiyah,dll.
  4. Shalat jama’ah
  5. Istighosah setiap malam Jumat Kliwon
  6. Istighosah setiap malam ganjil pada bulan Ramadhan
  7. Pengajian setiap malam Selasa Kliwon
    1. Keuangan Masjid Baitul Amin
    2. Pendapatan
      1. Infaq Jumat Rp 125.000,-
      2. Infaq kaleng Idul Adha Rp 700.000,-
      3. Infaq kaleng Idul Fitri Rp 1.200.000,-
      4. Pengeluaran

Untuk pengeluaran dalam kegiatan masjid, seperti membayar listrik, biaya pembersihan, pembangunan, rapat, dsb.

  1. Fungsi masjid Baitul Amin

Keberadaan masjid Baitul Amin yang telah hadir ditengah-tengah masyarakat tentunya memiliki beberapa fungsi yaitu :

  1. Sebagai tempat ibadah
  2. Sebagai tempat belajar
  3. Sebagai tempat silaturahim
  4. Struktur Pengurus Ta’mir Masjid Baitul Amin

Pelindung        :  Kepala desa

Kepala dusun

Penasiha          :  Bpk. K. M. Sholeh

Ta’mir Masjid :

Ketua               :  Bpk. A. Hasan

Bpk. M. Arifin

Sekretaris         :  Bpk. Suwito

Bpk. Surani

Bendahara       :  Bpk. Supalal

Bpk. Suyanto

2        Deskripsi Masalah

Dalam penelitian kami pada hari Selasa, 9 Nopember 2010 yang bertemakan “Masyarakat Madani” dengan menggunakan metode wawancara (face to face) dengan mengajukan pertanyaan kepada narasumber yang ada secara langsung,kami menemukan beberapa temuan dan permasalahan yang terjadi di dalam objek observasi kami,yaitu Masjid Baitul Amin tersebut. Hasil temuan itu antara lain :

  1. Hingga sekarang Masjid Baitul Amin telah mengalami dua kali pembugaran,terakhir pada tahun 2008, dan sekarang ini masih dalam proses pembaharuan tempat wudhu dan kamar mandi.
  2. Struktur ta’mir Masjid Baitul Amin

Di Masjid Baitul Amin pergantian kepengurusan dilakukan dalam periode tiga tahun sekali. Adapun pergantian pengurusan ini dilakukan secara keseluruhan (semua anggota pengurus). Sistem pemilihan kepengurusan ini dilakukan cenderung dengan menggunakan sistem kekeluargaan. Dalam pemilihan pengurus inti,yang meliputi pemilihan ketua,sekretaris,dan bendahara dilakukan secara demokratis,yaitu dengan melakukan pengambilan suara terbanyak (vooting) yang diambil dari seemua anggota ta’mir masjid yang telah hadir dalam rapat tiga tahunan tersebut sedangkan pemilihan kepengurusan yang lain,yakni pengurus yang meliputi wakil dan seksi-seksi dilakukan dan ditentukan oleh pengurus inti yang telah terpilih tersebut.

  1. Temuan Penelitian

Dalam penelitian yang kami lakukan di masjid Baitul Amin di desa Baye kec. Pagu kab. Kediri bahwa masjid tersebut banyak mempunyai peran bagi masyarakat sekitar seperti: sebagai tempat ibadah, Sebagai sarana bersosialisasi dan tukar pikiran, Menjembatani kepentingan-kepentingan individu, Sebagai sarana dakwah, Pengajian mingguan.

 

  1. Pembahasan
    1. Pengertian Masyarakat Madani

Masyarakat madani adalah sebuah kelompok atau tatanan masyarakatyang berdiri secara mandiri di hadapan penguasa dan negara, memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat, mengedepankan toleransi, demokrasi, berkeadapan serta mengakui dan menerima adanya kemajemukan. Masjid sebagai sarana tempat ibadah yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk meningkatkan jiwa spiritualisme pada Sang Khaliq (Allah), akan patut dan sewajarnya jika digunakan semaksimal mungkin.

Ta’mir Masjid Baitul Amin Desa Baye Kec. Pagu Kab. Kediri sudah bisa di katakan sebagai masyarakat madani berdasarkan pengertian di atas karena mereka memiliki ruang yang luas sehingga bisa di gunakan untuk seminar, rapat, dll. Yang memungkinkan warga negara untuk menyampaikan pendapat, berkumpul serta mempublikasikan informasi kepada publik. Dalam kesehariannya misalnya shalat jama’ah tidak mempertimbangkan aliran ataupun paham tertentu  sehingga siapapun di perkenankan untuk melaksanakan ibadah di dalamnya dengan tenang. Meskipun dalam tata cara peribadatan sebenarnya mereka menganut salah satu paham namun mereka menerima dan menghargai bila diantara anggota jama’ah ada yang berbeda karena pengurus masjid memiliki kesadaran untuk menghormati dan menghargai pendapat serta aktifitas yang dilakukan oleh kelompok masyarakat lain yang berbeda.

 

 

  1. Peran Masjid Baitul Amin bagi Perkembangan Masyarakat Madani

Diantara peran-perannya adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai tempat ibadah yang di dalamnya berkumpul berbagai macam orang yang membaur menjadi satu tanpa mempertimbangkan suku, ras,dan golongan.
  2. Sebagai sarana bersosialisasi dan tukar pikiran.
  3. Menjembatani kepentingan-kepentingan individu dan negara karena adanya ormas-ormas yang salin berkumpul sehingga mampu memberikan masukan terhadap keputusan-keputusan pemerintah .
  4. Sebagai sarana dakwah yang nantinya diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang berpengetahuan luas, berakhlak mulia, dan berperadaban maju.
  5. Pengajian mingguan
    1. Sumber Dana Masjid Baitul Amin.

Dalam menjalankan aktifitas kesehariannya dukungan yang mutlak dibutuhkan demi kelancaran penggunaan dan sebagainya. Misalnya untuk membayar tagihan listrik, membeli keperluan-keperluan masjid semisal alat-alat kebersihan, perawatan sound system, lampu, dll.

Adapun dananya bersumber dari :

  1. Infaq Jumat.
  2. Infaq kaleng Idul Adha.
  3. Infaq kaleng Idul Fitri
    1. Kepedulian Masyarakat terhadap Masjid Baitul Amin.

Masyarakat di sekitar Masjid Baitul Amin tergolong banyak dan bervariasi karakternya namun hampir sebagian besar mereka adalah orang awam (orang yang sedikit mengetahui tentang agama) sehingga eksistensi (keberadaan) masjid tersebut justru sangat penting dan dibutuhkan. Dengan area yang besar dan luas (muat untuk kurang lebih 350 jama’ah) ditambah dengan adanya seorang tokoh agama yang mempunyai pengaruh besar terhadap masyarakat tentu mampu menampung banyaknya masyarakat serta setiap kegiatan masyarakat yang lazimnya untuk menjadikan masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Keadaan yang terjadi pada masyarakat sekitar Masjid Baitul Amin justru malah sebaliknya, sebagian kecil dari masyarakat sekitar justru enggan memanfaatkan fasilitas tersebut, ada beberapa kelompok masyarakat yang mau menggunakan masjid tersebut dengan maksimal yakni masyarakat yang asli penduduk sekitar masjid tersebut.

Pada dasarnya Masjid Baitul Amin didirikan sebagai tempat ibadah. Di samping itu juga berperan cukup penting untuk keberlangsungan perkembangan masyarakat madani di desa Baye, kec. Pagu, kab. Kediri. Bertolak dari background-nya sebagai tempat ibadah, biasanya masyarakat desa Baye memanfaatkan masjid Baitul Amin sebagai sarana menyampaikan edukasi melalui TPQ , madrasah diniyah, dan pengajian. Namun dalam proses pengajaran ini tidak hanya membahas masalah keagamaan saja, tetapi juga membahas masalah-masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. A. Kesimpulan

Masyarakat madani merupakan system sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat. Inisiatif dari individu dan masyarakat akan berupa pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintahan yang sesuai dengan undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu.

Masyarakat madani merupakan tatanan masyarakat yang berdiri sendiri dan bercirikan menghargai dan menghormati perbedaan memiliki ruang public untuk menyalurkan aspirasi dan tidak bergantung pada pemerintah serta demokratisasi yang dibentuk sebagai akibat adanya partisipasi nyata anggota kelompok masyarakat.

Masyarakat madani membutuhkan institusi sosial,non pemerintahan yang independen yang menjadi kekuatan penyeimbang dari negara. Posisi itu dapat ditempati organisasi masyarakat maupun organisasi sosial politik bukan pemenang pemilu maupun kekuatan-kekuatan terorganisir lainnya yang ada di masyarakat dan ta’mir serta pengurus Masjid Baitul Amin sudah bisa dikatakan mampu mengisi posisi tersebut.

Ta’mir Masjid Baitul Amin sudah bisa dikatakan masyarakat madani karena merupakan lembaga yang mampu melakukan pembangunan masyarakat madani berdasarkan ciri-ciri yang telah ditemukan dan mampu mengembangkan konsep masyarakat madani bagi warga sekitar.

 

  1. B. Saran

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam suku,ras,agama,dan budaya dengan adanya kebhinekaan yang demokrasi dan plural tentu harus adanya praktik pelaksanaan dalam masyarakat madani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi, 1999. Menuju Masyarakat Madani, Cet. Ke-1, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

 

Budari, Muhammad, 2002. Masyarakat Sipil dan Demokrasi, Yogyakarta : E-Law Indonesia

 

Rahardjo, M. Dawam, 1999. Masyarakat Madani : Agama,Kelas Menengah, dan Perubahan Sosial, Cet. Ke- 1, Jakarta : LP3ES

 

Baso, Ahmad, 1999. Civil Society versus Masyarakat Madani, Cet. Ke-1, Bandung : Pustaka Hidayah

 

Tilaar, H.A.R, 1999. Pendidikan, Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia, Cet. Ke-1, Bandung : Remaja Rusdakarya

 

Kuntowijoyo, 1987. Budaya dan Masyaratkat, Yogyakarta : Tirta Wacana Yogja

 

Umari, Akram Dhiyahuddin, 1999. Masyarakat Madani Jakarta : Gema Insani Press

 


[1] Ubaidillah,Demokrasi,Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani (Jakarta :ICCE UIN Syarif Hidayatullah,2006)hal. 302

[4] Ibid

[5] Ubaedillah, Demokrasi, Hak Asasi Manusiadan  Masyarakat Madani(Jakarta : ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2006) hal 315

Posted in Uncategorized | Leave a comment

QIRO’ATUL QUR’AN

 

Makalah Ini Di Susun Sebagai Salah Satu Tugas

Mata Kuliah Ilmu ”Ulumul Qur’an”

 

Dosen Pengampu :

Dra. Nurul Hanani, M.HI.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh :

Aris Sasminto                          (931306210)

Fuad Mishbahul Kirom           (931303010)

Mohamad Hanafi  Muslim      (931301810)

 

JURUSAN SYARI’AH

PRODI EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

(STAIN) Kediri

2010


BAB I

PEBDAHULUAN

Bangsa Arab merupakan komunitas terbesar dengan berbagai suku termaktub didalamnya. Setiap suku memiliki dialek (lahjah) yang khusus dan berbeda dengan suku-suku lainnya. Perbedaan dialek itu tentunya sesuai dengan kondisi alam, seperti letak geografis dan sosio cultural pada masing-masing suku. Laiknya Indonesia yang memiliki bahasa persatuan, maka bangsa Arabpun demikian. Mereka menjadikan bahasa Quraisy sebagai bahasa bersama (common language) dalam berkomunikasi, berniaga, mengunjungi ka’bah, dan melakukan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Dari kenyataan di atas, sebenarnya kita dapat memahami alas an al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Quraisy.

Di sini, perbedaan-perbedaan lahjah itu membawa konsekuensi lahirnya bermacam-macam bacaan (qira’ah) dalam melafalkan al-Qur’an. Lahirnya bermacam-macam qira’ah itu sendiri, tidak dapat dihindarkan lagi. Oleh karena itu, Rasulullah SAW sendiri membenarkan pelafalan al-Qur’an dengan berbagai macam qira’ah. Sabdanya al-Qur’an itu diturunkan dengan menggunakan tujuh huruf (unzila hadza al-Qur’an ‘ala sab’ah ahruf) dan hadis-hadis lainnya yang sepadan dengannya.[1] Kendatipun Abu Syamah dalam kitabnya al-Qur’an dan al-Wajiz menolak muatan hadits itu sebagai justifikasi qira’ah sab’ah, konteks hadis itu sendiri memberikan peluang al-Qur’an dibaca dengan berbagai ragam qira’ah. Makalah ini akan membahas tentang hal tersebut.

Adapun yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah :

  1. Bagaimana latar belakang timbulnya perbedaan qiraah?
  2. Apa saja bentuk qira’ah serta syarat-syaratnya?


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Berdasarkan etimologi (bahasa), qiraah merupakan kata jadian (mashdar) dari kata kerja qiraah (membaca), jamaknya yaitu qiraat. Bila dirujuk berdasarkan pengertian terminology (istilah), ada beberapa definisi yang diintrodusirkan ulama :

  1. Menurut az-Zarqani.

Az-Zarqani mendefinsikan qiraah dalam terjemahan bukunya yaitu : mazhab yang dianut oleh seorang imam qiraat yang berbeda dengan lainnya dalam pengucapan al-Qur’an serta kesepakatan riwayat-riwayat dan jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun bentuk-bentuk lainnya.[2]

  1. Menurut Ibn al Jazari :

Ilmu yang menyangkut cara-cara mengucapkan kata-kata al-Qur’an dan perbedaan-perbedaannya dengan cara menisbatkan kepada penukilnya.[3]

  1. Menurut al-Qasthalani :

Suatu ilmu yang mempelajari hal-hal yang disepakati atau diperselisihkan ulama yang menyangkut persoalan lughat, hadzaf, I’rab, itsbat, fashl, dan washl yang kesemuanya diperoleh secara periwayatan.[4]

  1. Menurut az-Zarkasyi :

Qiraat adalah perbedaan cara mengucapkan lafaz-lafaz al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfif (meringankan), tatsqil (memberatkan), dan atau yang lainnya.[5]

  1. Menurut Ibnu al-Jazari

Qira’at adalah pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat-kalimat Al-Qur’an dan perbedaannya dengan membangsakaanya kepada penukilnya.[6]

Perbedaan cara pendefenisian di atas sebenarnya berada pada satu kerangka yang sama, yaitu bahwa ada beberapa cara melafalkan Al-Qur’an walaupun sama-sama berasal dari satu sumber, yaitu Muhammad. Dengan demikian, dari penjelasan-penjelasan di atas, maka ada tiga qira’at yang dapat ditangkap dari definisi diatas yaitu :

  1. Qira’at berkaitan dengan car penafalan ayat-ayat Al-Qur’an yang dilakukan salah seorang iman dan berbeda cara yang dilakukan imam-imam lainnya.
  2. Cara penafalan ayat-ayat Al-Qur’an itu berdasarkan atas riwayat yang bersambung kepada Nabi. Jadi, bersifat tauqifi, bukan ijtihadi.
  3. Ruang lingkup perbedaan qira’at itu menyangkut persolan lughat, hadzaf,
  4. I’rab, itsbat, fashl, dan washil.

B. Latar Belakang Timbulnya Perbedaan Qira’at

1. Latar Belakang Historis

Qira’at sebenarnya telah muncul sejak zaman Nabi walaupun pada saat itu qira’at bukan merupakan sebuah disiplin ilmu, ada beberapa riwayat yang dapat mendukung asumsi ini, yaitu :

Suatu ketika Umar bin Khathtab Ayat Al-Qur’an. Kemudian peristiwa perbedaan membaca ini mereka laporkan ke Rasulullah Saw. Maka beliau menjawab dengan sabdanya, yang artinya :

“Memang begitulah Al-Qur’an diturunkan. Sesungguhnya Al-Qur’an  ini diturunkan dalam tuju huruf, maka bacalah oleh kalian apa yang kalian anggap mudah dari tujuh huruf itu[7]

Menurut catatan sejarah, timbulnya penyebaran qira’at dimulai pada masa tabi’in, yaitu pad awal abad II H, tatkala para qari’ tersebar di berbagai pelosok, telah tersebar di berbagai pelosok. Mereka lebih suka mngemukakan qira’at gurunya daripada mengikuti qira’at imam-imam lainnya. Qira’at-qira’at tersebut diajarkan secara turun-menurun dari guru ke murid, sehingga sampai kepada imam qira’at baik yang tujuh, sepuluh atau yang empat belas.

Timbulnya sebab lain dengan penyebaran qori’-qori’ keberbagai penjuru pada masa Abu Bakar, maka timbullah qira’at yang beragam. Lebih-lebih setelah terjadinya transpormasi bahasa dan akulturasi akibat bersentuhan dengan bangsa-bangsa bukan arab, yang pada akhirnya perbedaan qira’at itu berada pada kondisi itu secara tepat.

  1. Latar Belakang cara penyampaian (kaifiyat al-ada’)

Menurut  analisis yang disampaikan Sayyid Ahmad khalil, perbedaan qira’at itu bermula dari bagaimana seorang guru membacakan qira’at itu kepada murid-muridnya. Dan kalau diruntun, cara membaca Al-Qur’an yang berbeda-beda itu, sebagaimana dalam kasus Umar dengan Hisyam, dan itupun diperbolehkan oleh Nabi sendiri. Hal itulah yang mendorong beberapa utama mencoba merangkum bentuk-bentuk perbedaan cara menghafalkan Al-Qur’an itu sebagai berikut :

  1. Perbedaan dalam I’rab atau harakat kalimat tanpa perubahan makna dan bentuk kalimat, misalnya pada firman Allah pada surat An-nisa’ ayat 37 tentang pembacaan “Bil Buhkhli” (artinya kikir), disini dapat dibaca dengan harakat “Fatha” pada huruf Ba’-nya, sehingga dibaca Bil Bakhli, dapat pula dibaca “Dhommah” pada Ba’-nya, sehingga menjadi Bil Bukhli.
  2. Perbedaan I’rab dan harakat (baris) kalimat sehingga mengubah maknanya, misalnya pada firman Allah surah Saba’ ayat 19, yang artinya “ Ya Tuhan kami jauhkanlah jarak perjalanan kami “. Kata yang diterjemahkan menjadi jauhkanlah diatas adalah “ba’id karena statusnya fi”il amar, maka boleh juga dibaca ba’ada yang berarti kedudukannya menjadi fi’il mahdhi artinya telah jauh
  3. Perbedaan pada perubahan huruf tanpa perubahan I’rab dan bentuk tulisannya, sedangkan maknanya berubah, misalnya pada firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 259, yang artinya “……dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian kami menyusunnya kembali.” Di dalam ayat tersebut terdapat kata “nunsyizuhaa” artinya (kemudian kami menyusun kembali), yang ditulis dengan huruf  Zai (    ) diganti dengan huruf ra’ (    ) sehingga berubah bunyi  menjadi “nunsyiruha” yang berarti (kami hidupkan kembali).
  4. Perubahan pada kalimat dengan perubahan pada bentuk tulisannya, tetapi maknanya tidak berubah, misalnya pada firman Allah dalam surah Al-Qoria’ah ayat : 5, yang artinya “……..dan gunung-gunung seperti bulu yang dihamburkan “. Dalam ayat tersebut terdapat bacaan “kal-ih-ni” dengan “ka-ash-shufi” sehingga kata itu yang mulanya bermakna bulu-bulu berubah menjadi bulu-bulu domba.
  5. Perbedaan pada kalimat yang menyebabkan perubahan bentuk dan maknanya, misalnya pada ungkapan “thal in mandhud” menjadi “thalhin mandhud”
  6. Perbedaan dalam mendahulukan dan mengakhirkannya, misalnya pada firman Allah dalam surah Qof ayat : 19, yang artinya “dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya”. Menurut suatu riwayat Abu Bakar pernah membacanya menjadi “wa ja’at sakrat al-haqq bin al-maut. Ia menggeser kata “al-maut” ke belakang dan memasukkan kata “al-Haq”. Sehingga jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “dan datanglah sekarat yang benar-benar dengan kematian”.
  7. Perbedaan dengan menambahi dan mengurangi huruf, seperti pada firman Allah dalam surah al-Baqarah: 25, yang artinya “…surge-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” Dalam ayat tersebut terdapat kata “min”, kata ini dibuang pada ayat serupa menjadi tanpa “min” dan sebaliknya pada ayat lain yang serupa menjadi tanpa “min” dan sebaliknya pada ayat lain yang serupa tidak terdapat “min” justru ditambah.[8]

C. Penyebab Perbedaan Qira’at

Sebab-sebab munculnya beberapa qiraat yang berbeda adalah :

  1. Perbedaan qiraat nabi, artinya dalam mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya, nabi memakai beberapa versi qiraat. Misalnya nabi pernah membaca surat as-Sajadah ayat 17 sebagai berikut :

Ÿxsù ãNn=÷ès? Ó§øÿtR !$¨B u’Å”÷zé& Mçlm; `ÏiB Ío§è% &ûãüôãr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÐÈ

Pada kata (ة   )dalam ayat ini, nabi membaca dengan “ta” ( ( ت biasa.

  1. Pengakuan dari nabi terhadap berbagai qiraat yang berlaku di kalangan kaum muslimin waktu itu, hal ini menyangkut dialek di antara mereka dalam mengucapkan kata-kata di dalam al-Qur’an. Contohnya ketika seorang Hudzail membaca di hadapan Rasul “atta hin” (   ). Padahal ia menghendaki “hatta hin” (  ).[9] Ada riwayat dari para sahabat nabi menyangkut berbagai versi qiraat yang ada atau perbedaan riwayat dari para sahabat nabi menyangkut ayat-ayat tertentu.
  2. Adanya lahjah atau dialek kebahasaan di kalangan bangsa arab pada masa turunnya al-Qur’an.[10]
  3. Perbedaan syakh, harakah atau huruf. Contohnya pada surat al-Baqarah ayat 222.

Ÿwur £`èdqç/tø)s? 4Ó®Lym tßgôÜtƒ ( …

Kata yang digaris bawahi bisa dibaca “yathurna” dan bisa dibaca “yatthoh-har-na”. jika dibaca qiraat pertama, maka berarti : “dan jangalah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai mereka suci (berhenti dari haidh tanpa mandi terlebih dahulu). Sedangkan  qiraat kedua berarti: “dan janganlah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai mereka bersuci (berhenti dari haidh dan telah mandi wajib terlebih dahulu).”[11]


D. Macam-Macam Dan Syarat-Syarat Qiraat

1)      Macam-macam qiraat

ü Dari segi kuantitas

  1. Qiraah sab’ah (qiraah tujuh)

Kata sab’ah artinya adalah imam-imam qiraat yang tujuh. Mereka itu adalah : Abdullah bin Katsir ad-Dari (w. 120 H), Nafi bin Abdurrahman bin Abu Naim (w. 169 H), Abdullah al-Yashibi (q. 118 H), Abu ‘Amar (w. 154 H), Ya’qub (w. 205 H), Hamzah (w. 188 H), Ashim ibnu Abi al-Najub al-Asadi.

  1. Qiraat Asyrah (qiraat sepuluh)

Yang dimaksud qiraat sepuluh adalah qiraat tujuh yang telah disebutkan di atas ditambah tiga qiraat sebagai berikut : Abu Ja’far. Nama lengkapnya Yazid bin al-Qa’qa al-Makhzumi al-Madani. Ya’qub (117 – 205 H) lengkapnya Ya’qub bin Ishaq bin Yazid bin Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrani, Khallaf bin Hisyam (w. 229 H)

  1. Qiraat Arba’at Asyarh (qiraat empat belas)

Yang dimaksud qiraat empat belas adalah qiraat sepuluh sebagaimana yang telah disebutkan di atas ditambah dengan empat qiraat lagi, yakni : al-Hasan al-Bashri (w. 110 H), Muhammad bin Abdurrahman (w. 23 H), Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi and-Nahwi al-Baghdadi (w. 202 H), Abu al-Fajr Muhammad bin Ahmad asy-Syambudz (w. 388 H).

ü Dari segi kualitas

Berdasarkan penelitian al-Jazari, berdasarkan kualitas, qiraat dapat dikelompokkan dalam lima bagian :

  1. Qiraat Mutawatir, yakni yang disampaikan sekelompok orang mulai dari awal sampai akhir sanad, yang tidak mungkin bersepakat untuk berbuat dusta. Umumnya, qiraat yang ada masuk dalam bagian ini.
  2. Qiraat Masyhur, yakni qiraat yang memiliki sanad sahih dengan kaidah bahasa arab dan tulisan Mushaf utsmani. Umpamanya, qiraat dari tujuh yang disampaikan melalui jalur berbeda-beda, sebagian perawi, misalnya meriwayatkan dari imam tujuh tersebut, sementara yang lainnya tidak, dan qiraat semacam ini banyak digambarkan dalam kitab-kitab qiraat.
  3. Qiraat Ahad, yakni yang memiliki sanad sahih, tetapi menyalahi tulisan Mushaf Utsmani dan kaidah bahasa arab, tidak memiliki kemasyhuran dan tidak dibaca sebagaimana ketentuan yang telah ditetapkan.[12]
  4. Qiraat Syadz, (menyimpang), yakni qiraat yang sanadnya tidak sahih. Telah banyak kitab yang ditulis untuk jenis qiraat ini.
  5. Qiraat Maudhu’ (palsu), seperti qiraat al-Khazzani
  6. As-Suyuthi kemudian menambah qiraat yang keenam, yakni qiraat yang menyerupai hadits Mudraj (sisipan), yaitu adanya sisipan pada bacaan dengan tujuan penafsiran. Umpamanya qiraat Abi Waqqash.
  7. Syarat-syarat Qiraat

Untuk menangkal penyelewengan qiraat yang sudah muncul, para ulama membuat persyaratan-persyaratan bagi qiraat yang dapat diterima. Untuk membedakan antara yang benar dan qiraat yang aneh (syazzah), para ulama membuat tiga syarat bagi qiraat yang benar. Pertama, qiraat itu sesuai dengan bahasa arab sekalipun menurut satu jalan. Kedua, qiraat itu sesuai dengan salah satu mushaf-mushaf utsmani sekalipun secara potensial. Ketiga, bahwa sahih sanadnya baik diriwayatkan dari imam qiraat yang tujuh dan yang sepuluh maupun dari imam-imam yang diterima selain mereka. Setiap qiraat yang memenuhi kriteria di atas adalah qiraat yang benar yang tidak boleh ditolak dan harus diterima. Namun bila kurang dari ketiga syarat diatas disebut qiraat yang lemah.[13]

E. Pengaruh Qiraat terhadap Istinbath Hukum

Perbedaan antara satu qiraat dan qiraat lainnya bisa terjadi pada perbedaan huruf, bentuk katam susunan kalimat, I’rab, penambahan dan pengurangan kata. Perbedaan-perbedaan ini sudah tentu memiliki sedikit atau banyak perbedaan makna yang selanjutnya berpengaruh terhadap hukum yang diistinbathkannya.


BAB III

KESIMPULAN

Dari pembahasan makalah ini, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Qiraat adalah perbedaan cara mengucapkan lafazh-lafazh al-Qur’an baik menyangkut hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf.
  2. Qiraat memiliki bermacam-macam, yakni qiraat sab’ah, qiraat asyrah dan qiraat arbaah asyrah, dan  Qiraat memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penetapan suatu hukum akibat perbedaan kata, huruf dan cara baca.

 

DAFTAR PUSTAKA

Rahmat Syafei, Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung : Pustaka Setia, 2006

Rosihin Anwar, Ulumul Qur’an, Bandung: Pustaka Setia. 2006

Ilmu Tafsir, Bandung: Pustaka setia. 2000

Soleh & Dahlan, Asbabun Nuzul (Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat al-Qur’an), Bandung: CV Diponegoro, Bandung, 2000

Quraish Shihab, dkk. Sejarah dan Ulumul Qur’an, Jakarta: Pustaka Firdaus. 1999

 


[1] Hadits yang sepadan banyak dimuat dalam pembukaan Tafsir Ath-Thabari, Imam as-Suyuthi menyatakan bahwa hadis-hadis ini didukung oleh 21 sahabat dan disebarkan, menurut Abu Abaid, dengan jalan mutawatir. Lihat Manna’ al-Qathan, Mahabits fi Ulum al-Qur’an, Mansyurat al-Ashr al-Hadits, ttp, 1973. Hlm. 158

 

[2] Muhamad ‘Abd al-Azhim az-Zarqani, Manhil al-Irfan, Beirut : Daar al Fikr, tt, jilid I, Hlm. 412

[3] Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an, Bandug : Pustaka Setia, 2000. Hlm. 147

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Kamaludin Marzuki, Ulum al-Qur’an, hlm. 110-112

[7] Masih ada banyak contoh lain. Lihat Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an, Hlm. 157

[8] Kamaludin Marzuki, Ulum al-Qur’an, hlm. 110-112

[9] Masih ada banyak contoh lain. Lihat Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an, Hlm. 157

[10] Dr. Rosihon Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an, hlm 157

 

[11] Quraish Shihab. Hlm 99-100

[12] Drs. H. Ahmad Syadali, MA, hlm 228-229

[13] Drs. H. Ahmad SYadali, MA, hlm 228

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Amtsal al-Qur’an

A. Latar Belakang Allah menggunakan banyak perumpamaan (amtsal) dalam Al-Qur’an. Perumpamaan-perumpamaan itu dimaksudkan agar manusia memperhatikan, memahami, mengambil pelajaran, berpikir dan selalu mengingat. Sayangnya banyaknya  perumpamaan  itu  tidak  selalu  membuat  manusia  mengerti, melainkan tetap ada yang mengingkarinya/ tidak percaya. Karena … Continue reading

Gallery | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | 1 Comment